sosmed

Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Friday, October 7, 2016

Cinta Tahu Tuannya (Part I)



           “Sial!Gue kesiangan lagi!” Ucap gue kesal pada diri sendiri.
            Sebuah kebiasaan aneh yang gue miliki dari semenjak gue sekolah, sampai sekarang gue sudah menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas ternama di kota kembang, Bandung.
            Setiap hari pertama gue masuk sekolah, dimana gue masih harus menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS) pasti gue selalu terlambat. Penyebabnya sih cuma satu hal, gue susah banget bangun pagi setelah libur panjang. Kenapa?Jawabannya simple, karena gue terbiasa bangun siang saat masa-masa liburan, dan akhirnya bablas juga sampai saat gue harus masuk sekolah.
            Mungkin kalian heran dan bertanya-tanya, kenapa ngga pasang alarm?Atau, emangnya orangtua gue ngga bangunin gue gitu? Semua udah gue coba, mulai dari pasang alarm di handphone sampai alarm di jam kamar gue, hasilnya nihil! Gue emang bangun pas alarmnya bunyi, tapi gue matiin dan gue tidur lagi. Rasanya gaya gravitasi di tempat tidur gue sangat kuat! Magnet bumi seakan pindah dibawah tempat tidur gue, sampai sulit rasanya beranjak dari tempat tidur. Bahkan, bantal dan guling seakan menghipnotis gue tetap memejamkan mata, seperti ada daya tarik untuk tetap melanjutkan mimpi. Soal orangtua gue, mereka bangunin gue kok, tapi gue selalu jawab “aduh, iya iya, sebentar lagiii aja” dengan mata masih terpejam. Sampai akhirnya mereka terlanjur berangkat untuk bekerja, setelah itu mereka akan membangunkan gue dengan cara lain, yaitu menelfon gue berkali-kali! Yang akhirnya membuat gue menerapkan profil bisu di handphone gue. Dan begitulah yang terjadi sampai akhirnya gue bangun kesiangan dan terlambat.
            Waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB. dan gue baru siap untuk berangkat sebagai mahasiswi baru. Sudah terbayang dikepala gue, bagaimana nanti gue akan dihukum oleh kakak senior yang pastinya selalu merasa paling benar! Tanpa pikir panjang, gue langsung melaju dengan sepedah motor kesayangan gue.
            Sesuai dengan yang udah gue duga, sesampainya gue di kampus baru, gue langsung kena hukuman squat jumps 20 kali ditambah dengan harus menunggu di luar gerbang kampus sampai acara pembukaan selesai, dan parahnya lagi, saat itu gue cuma sendiri. Sampai akhirnya, 10 menit kemudian, gue mendengar suara yang tak asing menyapa gue.
***

Gue Bianca Airen, biasa dipanggil Bi. Gue anak pertama dikeluarga gue, gue punya satu adik laki-laki yang selalu mengganggu gue, Rio Revan. Bokap gue kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di salah satu Dinas di Kota Jakarta, kalo nyokap gue, dia buka usaha toko, semacam butik yang menjual pakaian wanita dewasa dan pakaian anak-anak. Gue siswi SMA biasa yang bukan termasuk cewek-cewek populer dengan tampilan oke, wajah cantik, banyak duit dan juga pintar, walaupun terkadang banyak juga cewek populer yang ngga pintar-pintar amat, tapi cukup dengan modal cantik dan tajir.
Walaupun gue bukan termasuk kalangan cewek populer, tapi hampir semua anak satu sekolah tahu gue, kenapa? Karena gue bersahabat sama cowok yang populer disekolah. Dia Levin Natanliano, cowok dengan wajah tampan, kulit putih, bola mata cokelat, gaya sok dingin, jaim, jutek, banyak duit, dan hampir semua cewek suka sama dia. Mulai dari cewek cupu, biasa, pinter bahkan cewek populer. Emang bener ya, di dunia itu ngga ada yang sempurna, dia emang oke tapi sayang, dia itu pemalas dan pembuat onar. Hobi nya suka tidur di kelas dan jarang masuk jam pelajaran, dia lebih milih pura-pura sakit dan tidur di UKS, sampai-sampai penjaga UKS mengira kalau dia mungkin punya penyakit yang kronis karena selalu merasa ngga enak badan.
Awal gue kenal dia waktu kita pertama kali masuk sekolah, waktu itu kita lagi mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Kita sama-sama datang telat dan akhirnya dihukum bareng, karena gue anaknya emang doyan ngobrol, jadi gue yang ngajak ngobrol dia duluan.Awalnya dia masih sok jutek dan jaim banget, tapi mungkin karena gue cerewet, akhirnya dia nanggepin gue dan kita nyambung. Dari situ gue menyadari, bahwa emang bener “Don’t judge people from the cover.”Karena dia yang kelihatan jutek dan jaim, aslinya jail, asik, lebih cerewet dari gue dan rapuh.
            “Gue Bianca, panggil aja gue Bi, lo siapa? Kelas apa ya?” Sapa gue dengan ramah sambil menjulurkan tangan.
            “Gue gamau jalanin hukumannya, gue ngantuk, lo aja yang beresin sampahnya.”Jawab dia dengan nada ketus tanpa menyambut juluran tangan gue.
            “Lo ngga pinter ya, gue nanya apa malah jawab apa, ngga nyambung banget. Dan jangan seenaknya nyuruh-nyuruh gue, kita dihukum bareng, jadi kerjain bareng, lagian gue bukan babu lo!!.” Balas gue dengan kesal. Tapi sayangnya dia ngga menjawab dan cuma membaringkan badan dibangku taman sekolah.
            “Woy!! Lo dengerin gue ngga sih? Sumpah ya lo ngeselin banget!” Tanya gue sambil mencubit lengannya. Dan akhirnya dia merespon.
            “Apaan sih!Sakit tau!”
            “Denger ya Bi, lo juga bukan babu mereka, terus kenapa lo mau ngerjain nih hukuman ngga jelas, masa baru sekali dateng kesiangan hukumannya suruh beresin sampah, kaya ngga ada hukuman lain, misalnya beresin buku di perpus kek, yang ngga perlu jadi begitu kotor dan bau sampah. Hey, ini masih pagi dan lo harus mulungin sampah, gimana jadinya lo nanti sampai siang? Lo dateng kesini buat sekolah kan? Bukan buat mulungin sampah. Lo dateng kesini sebagai siswa baru, kenapa lo harus diperlakukan kaya tukang bersih-bersih baru. Emangnya mereka ngga bisa apa cuma nasehatin kita dan ngingetin supaya ngga kesiangan lagi, lagian lo juga ngga bego.” Jelas dia panjang lebar yang cuma bisa membuat gue diam.
            “Kok lo diem? Sekarang lo yang ngga dengerin gue?” Tanya nya yang masih tetap membuat gue diam.
            “Yaudah lah, sekarang mending lo simpen tuh tempat sampah bau, cuci tangan, dan ikut gue aja ke kantin. Gue laper.” Jelasnya sambil narik tangan gue.
Sampai dikantin gue masih diam dan agak kaget, kerena dia yang kelihatannya dingin, jaim, jutek dan ngeselin bisa jadi secerewet itu.
            “Lo mau pesen apa? Gue mau nasi uduk ajadeh.”
            “Gue gausah deh, gue ngga suka sarapan.” Jawab gue.
            “Gue ngga nyangka ya, ternyata lo bisa secerewet dan sebawel itu. Omongan lo bisa sepanjang itu, kaya lagi baca pidato. Gue kira lo anaknya jutek dan ngeselin, ternyata waah! Tapi, gimana soal hukumannya? Nanti kita malah dikasih hukuman yang lebih berat lagi.” Jelas gue sambil nemenin dia makan.
            “Udah deh, lo gausah bawel, itu urusan gue, jangan berisik, gue lagi makan. Mending lo cobain aja nih gorengan, ini enak banget.” Jawabnya sambil menyerahkan tempe goreng yang memang kelihatan enak, renyah dan masih hangat.
            “Kayak nya emang enak tuh, thank you ya lev.” Balas gue dengan mengambil gorengan tadi dan langsung melahapnya.
            “Lev? Dari mana lo tau nama gue?” Tanyanya singkat.
            “Tuh, di seragam lo, kan ada namanya Levin Natanliano. Gue ngga buta dan gue ngga bego.” Jawab gue seraya menunjuk nama yang terdapat di seragamnya. Dia hanya mengangguk, sambil masih menikmati sarapan paginya yang kesiangan.
Semenjak saat itu, gue dan Levin jadi dekat, cukup dekat, dan akhirnya sangat dekat. Kita udah kayak sahabat, udah ngga ada lagi yang namanya jaim di antara gue dan Levin.

Thursday, July 28, 2016

Mengabaikan "KITA"

          Terasa ada yang berbeda dari hari-hari Vendra Prayoga. Ia merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Ternyata ia telah kehilangan seseorang. Seseorang yang akan paling marah jika ia melakukan hal yang salah, seseorang yang paling khawatir saat ia jatuh sakit, seseorang yang selalu ada paling awal saat bagaimanapun keadaannya, seseorang yang telah lama mengisi hari-harinya, seseorang yang selalu menunggunya, walaupun ia tak pernah perduli, seseorang yang mencintainya, Abelia Rosa.

          Gadis cantik berkulit putih, bertubuh ramping dengan tinggi rata-rata dan berambut cokelat tua yang telah menemani setiap hari yang Vendra lewati selama 4 tahun lamanya. Bukan waktu yang cukup singkat untuk sebuah hubungan kekasih. Sampai akhirnya semua berakhir, Abel menyerah. Bukan pada cintanya terhadap Vendra, melainkan terhadap mimpi-mimpi masa depan mereka yang ia susun secara rapi di memori kepalanya. Bagi Abel, semua terasa begitu sia-sia, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk, karena mimpi itu hanya ia yang menginginkannya,  tapi Vendra? Ia hanya perduli pada kebahagiannya, tak perduli pada kata 'kita' diantara mereka berdua. Tak ada Abelia Rosa dalam kehidupannya, tak ada Abelia Rosa dalam hati dan pikirannya.


***

          Malam ini hujan begitu deras, rasa dingin terasa sampai menusuk tulang. Aku demam. Siapa yang perduli? Orang tua kah? Memang nya bisa apa? mereka jauh dan sibuk dengan pekerjaan mereka. Seandainya dia masih ada disini. Gumam Vendra dalam hati, sambil kembali memutar ingatannya tentang Abel.

Criiing


          Suara alert bbm di handphone Vendra berbunyi, menandakan ada pesan di redbery masangernya yang baru saja masuk.

"Ah, pasti dari Abel." Gumamnya agak malas. Dan benar saja pesan itu dari kekasihnya, dengan nama profil Abelia Rosa.

Abel : Sayang, kamu dimana?

Abel : Katanya demam? Nanti sepulang kerja aku bawain makan sama obat ya?
Abel : PING!!!
Vendra : Apa bel? Iya aku demam. Yaudah terserah kamu aja ya. Aku males.
Abel : Yaudah, nanti aku langsung ke rumah kamu ya.

Pesan itu hanya dibaca oleh Vendra tanpa dibalas.


          Sekitar pukul 17.00 WIB. Abel sudah berada didepan rumah Vendra, dia mencoba untuk membunyikan bel, tetapi tampaknya rumah itu kosong, walaupun mobil Vendra terparkir rapi didepan rumahnya. Vendra memang hanya tinggal dengan pembantunya yang memang hari itu sedang ijin tidak masuk. Ayahnya seorang pebisnis yang sedang melakukan rapat penting dengan kliennya diluar kota, dan ibunya pun seorang wanita karir yang membuka sebuah bisnis dibidang kuliner dibeberapa kota yang kebetulan sedang keluar kota untuk mengecek restorannya yang baru dibuka


           "Vendra kemana sih? ditelfon ngga diangkat, bbm juga ngga dibales." Gumam Abel sedikit cemas.

  
          Abel tetap menunggu dengan sabar didepan teras rumah Vendra yang kebetulan pagar rumah Vendra tidak digembok, sehingga Abel bisa masuk dan menunggu diteras, bukan dipinggir jalan depan rumahnya.

          Tak terasa sudah lebih dari setengah jam Abel menunggu, tapi batang hidung Vendra pun belum terlihat, dan tak ada kabar sama sekali dari Vendra. Dikarenakan sudah sangat sore dan hampir menjelang maghrib, Abel pun menyerah. Namun saat Abel hendak pulang dilihatnya mobil jazz berwarna putih berhenti tepat didepan rumah Vendra. Entah Abel harus senang atau sedih, orang yang ditunggu dan dicemaskannya dari tadi akhirnya datang, tapi tidak sendiri, dia diantar oleh seorang wanita yang tidak Abel kenal. Tanpa sempat Abel bertanya dan berkenalan dengan wanita itu, wanita itu langsung pergi meninggalkan Abel dan Vendra.


          "Ven, kamu dari mana aja sih? Aku nungguin kamu tau. Katanya kamu sakit, tapi kok kamu keluar, bukannya istirahat. Terus cewek itu siapa?" Tanya Abel langsung pada Vendra.


          "Bukan urusan kamu, lagian kamu ngapain disini? Ada yang nyuruh kamu nunggu? Engga kan?" Jawab Vendra Ketus, seakan tidak perduli dengan perasaan Abel saat ini yang sedang berkecamuk.


          "Bukan urusan aku? Ya jadi urusan aku lah Ven, kamu pacar aku, kita udah jalanin hubungan ini sama-sama dan udah lama banget. Dan saat kamu dianter sama cewek lain yang ngga aku kenal, ya itu jadi urusan aku juga. Aku harus tau itu siapa dan ada perlu apa sama kamu, biar aku akhirnya malah ngga jadi berfikiran negatif yang bakal ngerusak hubungan kita sayang."


          "Dan iya, ngga ada yang nyuruh aku buat nunggu kamu. Aku nunggu disini karena aku khawatir dan perduli sama kamu. Aku ngga mau ada apa-apa sama kamu. Tapi tanggepan kamu malah gini ke aku?" Cerocos Abel panjang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


          "Belum apa-apa udah mau nangis gitu. Bel, aku bosen, aku jenuh sama semua ini.  Kamu terlalu lebay tau ngga, cengeng, manja. Intinya aku capek sama kamu. Tolong jangan membebani aku sama sikap kamu yang aku ngga suka." Jawab Vendra agak membentak.


          "Salah aku apa? dimana? Aku cuma sayang sama kamu aja apa itu salah? Aku cuma coba untuk perduli sama kamu aja itu lebay? Aku ngga pernah overprotektif ke kamu, kamu mau kemana atau apapun aku ngga pernah larang asal kamu bilang dan jujur, aku ngga akan marah ataupun jadi cengeng kalo kamu nya juga ngga bikin perasaan aku jadi berantakan Vendra. Manja? Apa aku suka minta jemput ke kamu setiap saat? Engga. Apa aku ngeluh saat aku bahkan udah berjam-jam nunggu kamu dan bahkan saat kamu dateng aja ngga merasa bersalah? Engga. Aku selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik buat kamu, walaupun aku sadar sekarang, kalo semua itu ngga ada artinya dimata kamu. Sia-sia gitu aja, kamu malah anggep semua yang aku lakuin itu salah, dan hanya membebani kamu. Maaf kalo memang aku cuma membebani kamu selama ini, belum bisa jadi apa yang kamu mau, yang entah seperti apa, padahal aku udah mencoba yang terbaik untuk kita. Makasih Ven atas waktunya selama ini, makasih udah jadi warna dihidup aku yang sekarang coba kamu hapus lagi. Aku nyerah, bukan karena aku udah ngga sayang kamu, tapi kamu yang ngga bisa sayang sama aku. Semoga cepat sembuh Ven." Jelas Abel dengan isak tangisnya, seraya menyerahkan obat dan sup yang ia bawa untuk Vendra dan berlalu pergi.


          Sejak saat itu Vendra tidak bisa menghubungi Abel lagi, semua cara Vendra untuk menghubungi Abel tidak digubris oleh Abel. Nomor Abel tak pernah aktif lagi. Vendra pun sempat mendatangi rumah Abel, dan bertemu dengannya. Tapi saat itu Abel menegaskan bahwa perpisahan mereka memang jalan yang terbaik. Dan semenjak saat itu Abel dan Vendra tidak pernah saling berhubungan lagi.


          "Andai aku lebih menghargai dia yang selalu ada disampingku kala itu." Lirih Vendra sambil menarik selimut sampai menutupi wajahnya.








Hargailah dia yang ada bersamamu saat ini.
Jangan pernah menyia-nyiakannya.
Untuk mencoba mencari yang lebih baik.
Dan belum tentu yang terbaik.
Sampai akhirnya menyesal diakhir.
Tidak ada yang sempurna.
Karena semua memiliki kekurangangan yang berbeda.
Tapi dia yang mencintai, selalu ada, dan menerima.
 Itu yang terbaik.
-Vendra Prayoga
 .
.
.
Banyak yang bilang, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Ternyata bohong!
Buktinya, semua usahaku untuk kita tidak ada artinya.
-Abelia Rosa






Tuesday, April 21, 2015

Lupus dan Wanita Hebat



          21 April 2015, untuk memperingati hari kartini tahun ini, mungkin kali ini artikel yang saya buat didedikasikan untuk wanita yang paling berharga dihidup saya, wanita paling tegar, paling sempurna dimata saya. Wanita hebat yang menurut saya melebihi ibu kartini dimasanya.

          Dia adalah MAMAH, wanita yang sudah berjuang mengandung saya selama 9 bulan, dan sudah membesarkan saya selama 18tahun, walaupun dia telah mengidap penyakit lupus selama 10tahun lamanya. Mungkin terdengar aneh nama penyakitnya, maka dari itu, kali ini saya akan kasih sedikit gambaran tentang lupus.
          Mungkin saya bukan dokter, bukan juga mahasiswi kedokteran, bahkan sekolah menengah saja jurusan perkantoran, tapi saya bisa sedikit menjelaskan bukan dari pelajaran tapi dari ilmu yang saya dapat dari kenyataan.


LUPUS

          Dari mana kita memulai? Yang paling logis adalah dimulai dari definisi lupus. Lupus adalah nama umum untuk kelainan yang secara teknis disebut lupus erythematosus. Nama formal lain adalah systemic lupus erythematosus atau biasa disingkat menjadi SLE. Secara sederhana, lupus erythematosus terjadi ketika tubuh menjadi alergi terhadap dirinya sendiri. Dalam istilah immunology dapat dikatakan, lupus adalah kebalikan dari apa yang terjadi pada kanker maupun AIDS. Pada lupus, tubuh melakukan reaksi yang berlebihan terhadap stimulus asing dan memproduksi banyak antibodi, atau protein-protein yang melawan jaringan tubuh. Karena itu, lupus disebut dengan penyakit autoimun (auto berarti dengan sendirinya).
          Menurut National Arthritis Data Workshop memperkirakan ada sebanyak 239.000 orang Amerika mengidap SLE, namum di Indonesia belum dapat diperkirakan berapa jumlah pengidap, namun yang pasti salah satunya adalah mamah saya.
          Lupus menjadi penyakit yang sangat sulit untuk didiagnosis. Banyak pasien lupus terlihat benar-benar sehat, tetapi beberapa survei menunjukkan bahwa pasien yang diyakini mengidap lupus telah mengalami beberapa gejala dan tanda selama kurang lebih 3 tahun. Benar saja, mamah saya awalnya sehat-sehat saja dan mungkin sekarang juga terlihat sehat, tidak seperti orang sakit, tapi ternyata mamah saya adalah salah satu pengidap lupus.
          Gejala lupus awalnya hanya seperti penyakit biasa saja, seperti demam, anoreksia, penurunan berat badan, atau kenaikan berat badan, lelah dan lesu. Tapi lama-kelamaan akan merasa nyeri sendi atau pembengkakan. Bahkan akan sampai keluar ruam biru atau memar disekujur badan.
          Lupus biasanya menyerang hampir seluruh organ tubuh kita, seperti; jantung, paru-paru, ginjal, hati, kulit, tulang, sendi dan lainnya. Dan yang dialami oleh mamah saya sekarang sudah menjalar hampir kseluruhan, namun belum sampai pada ginjal dan hati.
          Untuk para pengidap lupus, penyakit ini belum ada obatnya, namun pengobatan yang baik melibatkan unsur-unsur lingkungan yang bisa dikendalikan. Banyak yang bisa dilakukan, termasuk menghindari sinar matahari, makan makanan yang sehat, pola makan yang seimbang, tetap beraktifitas, dan menghindari perubahan tekanan udara. Penyakit ini permanen dan tidak akan pergi, meskipun kadang datang dan pergi tidak menentu, tapi dia tidak akan benar-benar pergi. Pengidap lupus tidak boleh terlalu banyak pikiran dan beban, hindari emosi-emosi yang memuncak, seperti kasus pada mamah saya, saat dia emosi suaranya tidak dapat keluar dan tiba-tiba setengah dari badannya kaku dan mati tidak dapat bergerak. Tapi semakin cepat anda mengatasi emosi-emosi tersebut, semakin baik pula untuk kesehatan pengidap lupus. Dukungan dari keluarga dan teman juga sangat membantu, dan mulailah menjalani hidup yang positif dan realistis, semakin baik anda merasa sehat secara fisik dan mental. Siapa tau, ini bisa meredakan lupus. Memang benar, meski sakit mamah saya seperti layaknya wanita lain yang sehat, dia kuat, tegar, sosok yang penuh semangat dan tetap bisa menjalani hari-harinya seperti biasa bersama saya, keluarga, dan teman-temannya.



Saya mencintai mamah saya lebih dari apapun, cepat sembuh, tetap kuat, karna kaka akan selalu mendukung disamping mamah. Love you mom..



Thursday, February 12, 2015

Terlambatkah, sayang?

          Hai, apa kabar kamu; pemilik luka tak berdarah. Maaf, mungkin aku menanyakan pertanyaan yang bodoh, sudah jelas bahwa penyebab lukamu adalah aku, mengapa aku harus bertanya lagi tentang kabarmu? Jadi, bagaimana lukamu, masih sakit kah? Berbekas kah?. Benci kah kamu kepadaku yang jelas selalu menggores luka berulang kali? Jika aku jadi kamu mungkin iya, bahkan tak akan mau aku melihatmu lagi. Tapi, berbeda dengan dirimu, bak malaikat tanpa sayap kamu selalu memaafkanku karena cinta. Oh sayang, kamu ini bodoh, atau aku yang memang terlalu jahat? Atau sekuat itu kah cintamu, sehingga dengan mudah kamu menyembuhkan luka.
          Ya, mungkin aku pendosa dan bukan orang suci, aku yakin kamu tau itu. Jadi, berhentilah berpura-pura buta sayang. Kamu bilang kita adalah satu, walaupun aku tau kamu hanya berjuang sendirian, dan kamu sadar itu. Lucu, bagaimana bisa kamu bertahan? Bagaimana bisa kamu menjaga perasaanmu tetap utuh untukku? Bagaimana bisa kamu tetap bersikap manis padaku? Dasar pria jahat, beginikah caramu membalasku? Semakin kau bersikap baik, semakin aku membenci diriku sendiri. Aku merasa hatiku seperti neraka, atau aku kah iblis yang hanya bisa berdusta pada malaikat. Jika iya, aku sangat menyesal menjadi iblis saat aku bertemu denganmu.
          Sayang, iblis ini mulai jatuh cinta pada malaikatnya, iblis ini mulai takut kehilangan malaikatnya, takut tak akan menemukan seorang malaikat yang bisa mencitainya sepertimu. Tapi, bisakah seroang iblis bersama malaikat? Mustahil... Tidak, tidak, tidak! Aku bukan iblis kan sayang? Iya kan, sayang? Jawablah, bahwa aku ini hanya wanitamu yang pendosa, hanya wanita jahat yang tak pernah mengerti perasaanmu. Jangan katakan bahwa aku ini seperti iblis, aku tak ingin seperti itu sayang, aku takut, aku tau aku salah, tapi aku tak sejahat iblis kan sayang?
          Maaf, terlambatkah wanita pendosa ini memperbaiki segalanya? Berusaha untuk menjadi lebih baik untukmu, menjadi lebih menghargai dirimu, benar-benar menjadi wanitamu dengan cinta, mencoba untuk membahagiakanmu. Mungkin sekarang aku harus menurunkan ego-ku, dan berkata jujur bahwa aku mencintaimu, bahwa kamu segalanya, jadi, berjanjilah tetap disisiku dan jangan pernah berfikir untuk pergi. Terimakasih sudah menjadi sabar menghadapi wanita jalang sepertiku.
          Mulai saat ini, berjanjilah takkan melepaskan tanganku, bimbing aku menjadi wanitamu yang penuh cinta, kita akan lewati setiap jalan bersama, dan kamu takkan pernah berjuang sendiri (lagi). Aku mencintaimu.


















-wanitamu yang pendosa-

Monday, February 9, 2015

One Of What He Ever Gave

Saya pastikan kamu bahagia disini.
Jika kamu pergi nanti, saya akan genggam tangan kamu, dan jangan berharap akan saya lepaskan.
Jika nanti kamu potong tangan saya, saat kamu lelah dengan semua ini, kamu dapat pergi.
Namun nanti, saya akan cari kamu!
Bukan untuk meminta potongan tangan saya, namun...
Saya akan meminta setengah hati kamu, setengah jantung kamu, dan diri kamu.

Saya berjanji untuk membahagiakanmu, tapi jangan pergi.
Saya harap, saya tidak kehilangan tangan saya.
Jika iya, saya takut takkan bisa menggunakan cincin kita nanti, itu yang terburuk.

Namun, apabila saya tidak dapat hidup sampai saat itu.
Katakan pada perawat saya, bahwa saya tidak mau terkubur bersama jantung dan hati saya.
Saya mau ruang itu kosong!
Karna saya tak bisa memenuhi janji saya; untuk tetap bersamamu dan membahagiakanmu.

Dan kamu!
Jika nanti kamu temukan kembali tempat nyaman pengganti saya.
Katakan pada orang beruntung itu, bahwa saya mau kalian kubur hati dan jantung saya ditempat pertama kali kalian bertemu.
Saat itu semua tentang kita akan hilang terkubur.

Namun sebelum itu, saya akan menunggu didekatmu, disisimu.
Menanti hati dan jantung saya kembali, untuk memastikan kamu bahagia.
Baru saya bisa pergi..






-Yang mencintaimu dengan sangat-