sosmed

Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Thursday, February 12, 2015

Terlambatkah, sayang?

          Hai, apa kabar kamu; pemilik luka tak berdarah. Maaf, mungkin aku menanyakan pertanyaan yang bodoh, sudah jelas bahwa penyebab lukamu adalah aku, mengapa aku harus bertanya lagi tentang kabarmu? Jadi, bagaimana lukamu, masih sakit kah? Berbekas kah?. Benci kah kamu kepadaku yang jelas selalu menggores luka berulang kali? Jika aku jadi kamu mungkin iya, bahkan tak akan mau aku melihatmu lagi. Tapi, berbeda dengan dirimu, bak malaikat tanpa sayap kamu selalu memaafkanku karena cinta. Oh sayang, kamu ini bodoh, atau aku yang memang terlalu jahat? Atau sekuat itu kah cintamu, sehingga dengan mudah kamu menyembuhkan luka.
          Ya, mungkin aku pendosa dan bukan orang suci, aku yakin kamu tau itu. Jadi, berhentilah berpura-pura buta sayang. Kamu bilang kita adalah satu, walaupun aku tau kamu hanya berjuang sendirian, dan kamu sadar itu. Lucu, bagaimana bisa kamu bertahan? Bagaimana bisa kamu menjaga perasaanmu tetap utuh untukku? Bagaimana bisa kamu tetap bersikap manis padaku? Dasar pria jahat, beginikah caramu membalasku? Semakin kau bersikap baik, semakin aku membenci diriku sendiri. Aku merasa hatiku seperti neraka, atau aku kah iblis yang hanya bisa berdusta pada malaikat. Jika iya, aku sangat menyesal menjadi iblis saat aku bertemu denganmu.
          Sayang, iblis ini mulai jatuh cinta pada malaikatnya, iblis ini mulai takut kehilangan malaikatnya, takut tak akan menemukan seorang malaikat yang bisa mencitainya sepertimu. Tapi, bisakah seroang iblis bersama malaikat? Mustahil... Tidak, tidak, tidak! Aku bukan iblis kan sayang? Iya kan, sayang? Jawablah, bahwa aku ini hanya wanitamu yang pendosa, hanya wanita jahat yang tak pernah mengerti perasaanmu. Jangan katakan bahwa aku ini seperti iblis, aku tak ingin seperti itu sayang, aku takut, aku tau aku salah, tapi aku tak sejahat iblis kan sayang?
          Maaf, terlambatkah wanita pendosa ini memperbaiki segalanya? Berusaha untuk menjadi lebih baik untukmu, menjadi lebih menghargai dirimu, benar-benar menjadi wanitamu dengan cinta, mencoba untuk membahagiakanmu. Mungkin sekarang aku harus menurunkan ego-ku, dan berkata jujur bahwa aku mencintaimu, bahwa kamu segalanya, jadi, berjanjilah tetap disisiku dan jangan pernah berfikir untuk pergi. Terimakasih sudah menjadi sabar menghadapi wanita jalang sepertiku.
          Mulai saat ini, berjanjilah takkan melepaskan tanganku, bimbing aku menjadi wanitamu yang penuh cinta, kita akan lewati setiap jalan bersama, dan kamu takkan pernah berjuang sendiri (lagi). Aku mencintaimu.


















-wanitamu yang pendosa-

5 comments: