Gadis cantik berkulit putih, bertubuh ramping dengan tinggi rata-rata dan berambut cokelat tua yang telah menemani setiap hari yang Vendra lewati selama 4 tahun lamanya. Bukan waktu yang cukup singkat untuk sebuah hubungan kekasih. Sampai akhirnya semua berakhir, Abel menyerah. Bukan pada cintanya terhadap Vendra, melainkan terhadap mimpi-mimpi masa depan mereka yang ia susun secara rapi di memori kepalanya. Bagi Abel, semua terasa begitu sia-sia, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk, karena mimpi itu hanya ia yang menginginkannya, tapi Vendra? Ia hanya perduli pada kebahagiannya, tak perduli pada kata 'kita' diantara mereka berdua. Tak ada Abelia Rosa dalam kehidupannya, tak ada Abelia Rosa dalam hati dan pikirannya.
***
Criiing
Suara alert bbm di handphone Vendra berbunyi, menandakan ada pesan di redbery masangernya yang baru saja masuk.
"Ah, pasti dari Abel." Gumamnya agak malas. Dan benar saja pesan itu dari kekasihnya, dengan nama profil Abelia Rosa.
Abel : Sayang, kamu dimana?
Abel : Katanya demam? Nanti sepulang kerja aku bawain makan sama obat ya?
Abel : PING!!!
Vendra : Apa bel? Iya aku demam. Yaudah terserah kamu aja ya. Aku males.
Abel : Yaudah, nanti aku langsung ke rumah kamu ya.
Pesan itu hanya dibaca oleh Vendra tanpa dibalas.
Sekitar pukul 17.00 WIB. Abel sudah berada didepan rumah Vendra, dia mencoba untuk membunyikan bel, tetapi tampaknya rumah itu kosong, walaupun mobil Vendra terparkir rapi didepan rumahnya. Vendra memang hanya tinggal dengan pembantunya yang memang hari itu sedang ijin tidak masuk. Ayahnya seorang pebisnis yang sedang melakukan rapat penting dengan kliennya diluar kota, dan ibunya pun seorang wanita karir yang membuka sebuah bisnis dibidang kuliner dibeberapa kota yang kebetulan sedang keluar kota untuk mengecek restorannya yang baru dibuka
"Vendra kemana sih? ditelfon ngga diangkat, bbm juga ngga dibales." Gumam Abel sedikit cemas.
Abel tetap menunggu dengan sabar didepan teras rumah Vendra yang kebetulan pagar rumah Vendra tidak digembok, sehingga Abel bisa masuk dan menunggu diteras, bukan dipinggir jalan depan rumahnya.
Tak terasa sudah lebih dari setengah jam Abel menunggu, tapi batang hidung Vendra pun belum terlihat, dan tak ada kabar sama sekali dari Vendra. Dikarenakan sudah sangat sore dan hampir menjelang maghrib, Abel pun menyerah. Namun saat Abel hendak pulang dilihatnya mobil jazz berwarna putih berhenti tepat didepan rumah Vendra. Entah Abel harus senang atau sedih, orang yang ditunggu dan dicemaskannya dari tadi akhirnya datang, tapi tidak sendiri, dia diantar oleh seorang wanita yang tidak Abel kenal. Tanpa sempat Abel bertanya dan berkenalan dengan wanita itu, wanita itu langsung pergi meninggalkan Abel dan Vendra.
"Ven, kamu dari mana aja sih? Aku nungguin kamu tau. Katanya kamu sakit, tapi kok kamu keluar, bukannya istirahat. Terus cewek itu siapa?" Tanya Abel langsung pada Vendra.
"Bukan urusan kamu, lagian kamu ngapain disini? Ada yang nyuruh kamu nunggu? Engga kan?" Jawab Vendra Ketus, seakan tidak perduli dengan perasaan Abel saat ini yang sedang berkecamuk.
"Bukan urusan aku? Ya jadi urusan aku lah Ven, kamu pacar aku, kita udah jalanin hubungan ini sama-sama dan udah lama banget. Dan saat kamu dianter sama cewek lain yang ngga aku kenal, ya itu jadi urusan aku juga. Aku harus tau itu siapa dan ada perlu apa sama kamu, biar aku akhirnya malah ngga jadi berfikiran negatif yang bakal ngerusak hubungan kita sayang."
"Dan iya, ngga ada yang nyuruh aku buat nunggu kamu. Aku nunggu disini karena aku khawatir dan perduli sama kamu. Aku ngga mau ada apa-apa sama kamu. Tapi tanggepan kamu malah gini ke aku?" Cerocos Abel panjang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Belum apa-apa udah mau nangis gitu. Bel, aku bosen, aku jenuh sama semua ini. Kamu terlalu lebay tau ngga, cengeng, manja. Intinya aku capek sama kamu. Tolong jangan membebani aku sama sikap kamu yang aku ngga suka." Jawab Vendra agak membentak.
"Salah aku apa? dimana? Aku cuma sayang sama kamu aja apa itu salah? Aku cuma coba untuk perduli sama kamu aja itu lebay? Aku ngga pernah overprotektif ke kamu, kamu mau kemana atau apapun aku ngga pernah larang asal kamu bilang dan jujur, aku ngga akan marah ataupun jadi cengeng kalo kamu nya juga ngga bikin perasaan aku jadi berantakan Vendra. Manja? Apa aku suka minta jemput ke kamu setiap saat? Engga. Apa aku ngeluh saat aku bahkan udah berjam-jam nunggu kamu dan bahkan saat kamu dateng aja ngga merasa bersalah? Engga. Aku selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik buat kamu, walaupun aku sadar sekarang, kalo semua itu ngga ada artinya dimata kamu. Sia-sia gitu aja, kamu malah anggep semua yang aku lakuin itu salah, dan hanya membebani kamu. Maaf kalo memang aku cuma membebani kamu selama ini, belum bisa jadi apa yang kamu mau, yang entah seperti apa, padahal aku udah mencoba yang terbaik untuk kita. Makasih Ven atas waktunya selama ini, makasih udah jadi warna dihidup aku yang sekarang coba kamu hapus lagi. Aku nyerah, bukan karena aku udah ngga sayang kamu, tapi kamu yang ngga bisa sayang sama aku. Semoga cepat sembuh Ven." Jelas Abel dengan isak tangisnya, seraya menyerahkan obat dan sup yang ia bawa untuk Vendra dan berlalu pergi.
Sejak saat itu Vendra tidak bisa menghubungi Abel lagi, semua cara Vendra untuk menghubungi Abel tidak digubris oleh Abel. Nomor Abel tak pernah aktif lagi. Vendra pun sempat mendatangi rumah Abel, dan bertemu dengannya. Tapi saat itu Abel menegaskan bahwa perpisahan mereka memang jalan yang terbaik. Dan semenjak saat itu Abel dan Vendra tidak pernah saling berhubungan lagi.
"Andai aku lebih menghargai dia yang selalu ada disampingku kala itu." Lirih Vendra sambil menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
Hargailah
dia yang ada bersamamu saat ini.
Jangan
pernah menyia-nyiakannya.
Untuk
mencoba mencari yang lebih baik.
Dan belum
tentu yang terbaik.
Sampai
akhirnya menyesal diakhir.
Tidak ada
yang sempurna.
Karena
semua memiliki kekurangangan yang berbeda.
Tapi dia
yang mencintai, selalu ada, dan menerima.
Itu
yang terbaik.
-Vendra
Prayoga
.
.
.
Banyak yang
bilang, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Ternyata
bohong!
Buktinya,
semua usahaku untuk kita tidak ada artinya.
-Abelia
Rosa







