"Penyesalan memang selalu datang terakhir"
Masih ingatkah kamu tentang kita (dulu). Ketika kita masih
bisa berbincang-bincang tanpa beban walau hanya lewat tulisan dichat blackberry messenger, ketika kamu masih
suka mengirim chat dengan emote-emote lucu, berterus terang tentang rasa rindu
yang kau rasakan, dulu kamu selalu ingin menjemputku dan mengajakku
jalan-jalan, kita pergi bersama, tertawa bersama meski kadang hal yang kita
tertawakan itu sangatlah tidak lucu, tapi saat bersamamu aku selalu merasa
bahagia, dan kamu juga mengatakan hal yang sama walaupun hubungan kita hanya
sekedar berteman, ya kita hanya teman tapi aku mempunyai perasaan yang lebih
dari teman untukmu. Tapi kini semua berbeda, jangankan untuk pergi denganmu
atau mendengar kejujuranmu tentang rasa rindu, membaca sapaan ringanmu dichat blackberry messenger saja aku tak
pernah, mungkin memang semua salahku, kesalahanku yang amat sangat kusesali.
Semua berawal pada hari itu. Kamis, 07 Februari 2013,
awalnya semua memang terasa baik-baik saja, hari itu kamu bilang bahwa kondisi
badanmu sedang kurang sehat, saat mendengar itu aku sungguh sangat khawatir
tentang keadaanmu dan aku hanya bisa mengingatkanmu supaya kamu selalu menjaga
pola makanmu yang berantakan. Tapi ternyata kamu malah memintaku datang
kerumahmu untuk membawakan bubur dan menyuapimu makan, hey, aku sayang kamu!
Jangankan hanya untuk membawakan bubur saat kamu sakit, menunggumu seminggu
penuh saat sakit hingga sembuh pun aku mau.
Akhirnya tanpa fikir panjang aku pun bersiap untuk pergi
kerumahmu, aku meminta tolong pada sahabatku untuk menjemputku serta
mengantarkanku, sahabatku tak pernah sungkan untuk mengantarkanku kemanapun,
dia juga selalu bisa mengerti tentangku, tentangmu, dan tentang kita, karna aku
juga tak pernah sungkan untuk berbagi cerita dengannya. Malam hari sekitar
pukul 19.00 WIB. aku tiba tepat didepan rumahmu dan sahabatku berlalu
meninggalkanku ketika kamu keluar dan menemuiku, awalnya aku ragu karna ini
adalah pertama kalinya aku kerumahmu sendirian, tapi aku mencoba memberanikan
diriku hanya untukmu sayang. Saat kamu mengajakku masuk kerumahmu, kamu
mengenalkanku pada kedua orangtuamu dan kakak perempuanmu, aku dan keluargamu
sempat berbincang-bincang sebentar sampai akhirnya tinggal kita berdua dibalkon
rumahmu, aku menyuapimu makan bubur yang kubawakan sambil kita mengobrol
tentang hal-hal yang sudah tak kuingat karna saat itu yang aku perhatikan hanya
kamu bukan ucapanmu.
Kita cukup lama berada disitu sampai akhirnya kita merasa
bosan dan kamu mengajakku pergi keluar padahal saat itu kondisimu masih belum
begitu baik, tapi kamu memaksa hingga membuatku tak dapan menolak ajakanmu
untuk pergi. Akhirnya aku dan kamu pergi keluar untuk membeli jus, saat kita
membeli jus kamu bilang ingin mengatakan sesuatu kepadaku tapi tidak disitu,
lalu kita pergi ke alun-alun kota, kita duduk dipinggiran alun-alun, kita
bercanda dan kamu sangat senang mem-bully orang yang lewat hingga membuatku
tertawa, sampai akhirnya tak kusangka kamu tiba-tiba bertanya kepadaku,
"Kalo misalkan aku yang jadi pacar kamu gimana de ?" tanyamu padaku.
Pertanyaanmu yang tiba-tiba seperti itu membuatku bingung, aku kaget bukan
main, membuatku tak dapat berfikir jernih dan tak tau harusku jawab apa
peratanyaanmu. Aku mengira pertanyaanmu yang tiba-tiba itu hanya sebuah lelucon
yang tak harus kutanggapi dengan serius, dan secara spontanitas aku menjawab
pertanyaanmu dengan kalimat bodoh, "Engga, gue lebih nyaman kaya
gini." kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku. Dasar bodoh! Aku
memang bodoh! Aku menyayangimu hey, tapi dengan bodohnya aku mengahancurkan
segalanya, mungkin juga perasaanmu. Dan semenjak saat itu semua telah berbeda,
semua berubah, kamu menjauh dariku, tak ada lagi tentang kita, dan tak ada lagi
kamu yang mengisi hari-hariku.
Maafkan aku, aku sungguh sangat menyesal, andai waktu bisa
terulang aku ingin kembali kehari itu untuk memperbaiki semuanya terutama
jawabanku atas pertanyaanmu dan aku ingin bilang bahwa aku menyayangimu. Tapi
sayangnya, waktu takkan pernah
bisa terulang.